A. PERSEPSI : INTI KOMUNIKASI
Persepsi adalah proses internal yang memungkinkan kita memilih,
mengorganisasikan, dan menafsirkan ransangan dari lingkungan kita, dan proses
tersebut mempengaruhi perilaku kita. Persepsi adalah inti komunikasi, sedangkan
penafsiran (interpretasi) adalah inti persepsi, yang identik dengan
peyandian-balik atau Decoding dalam proses komunikasi. Persepsi dikatakan inti
komunikasi karena jika persepsi kita tidak akurat, komunikasi yang terjadi
tidak akan efektif. Persepsilah yang menentukan kita akan menanggapi atau
mengabaikan suatu pesan. Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi antar
individu, semakin mudah dan sering mereka berkomunikasi, dan sebagai
konekuensinya semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau identitas.
Beberapa pengertian persepsi menurut ahli
·
Brian Fellows: Persepsi adalah
proses yang memungkinkan suatu organisme menerima dan menganalisis informasi
·
Kenneth Goodrace dan Edward
M.Badaken: persepsi adalah sarana yang memungkinkan kita memperoleh kesadaran
akan sekeliling dan lingkungan kita
·
Philip Goodarace and Jennifer
Follers: persepsi adalah proses mental yang digunakan untuk mengenali
ransangan
·
Joseph A. DeVito: Persepsi adalah
proses yang menjadikan kita sadar akan banyaknya stimulus yang memengaruhi
indera kita.
Persepsi
meliputi penginderaan (sensasi) melalui alat-alat indera kita, atensi, dan
interpretasi. Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken, juga Judy C.
Pearson dan Paul E. Nelson, menyebutkan bahwa persepsi terdiri dari tiga
aktifitas yaitu: seleksi, organisasi, dan interpretasi. Ketiga aktifitas ini tidak
dapat dibedekan secara tegas, kapan suatu tahap dimulai dan kapan suatu tahap
berakhir. Namun dalam beberapa kasus, ketiga tahap ini berjalan secara
serempak.
Tahap
terpenting dalam persepsi adalah interpretasi suatu pesan dari slah satu
atau lebih indera kita. Dan persepsi manusia sebenarnya terbagi atas dua :
perspsi terhadap objek (lingkungan fisik) dan persepsi terhadap manusia.
Persepsi terhadap manusia kan menjadi kompleks, karena manusia bersifat
dinamis. Persepsi terhadap manusia sering disebut persepsi sosial.
Persepsi terhadap lingkungan fisik berbeda dengan persepsi terhadap persepsi
lingkungan sosial. Perbedaan tersebut mencakup hal-hal sebagai berikkut:
·
Persepsi terhadap objek melalui
lambang-lambang fisik, sedangkan persepsi terhadap orang melalui lambang verbal
dan nonverbal. Manusia lebih aktif daripada kebanyakan objek dan lebih sulit
diramalkan
·
Persepsi terhadap objek menanggapi
sifat-sifat luar, sedangkan persepsi terhadap manusia menangggapisifat luar dan
dalam ( perasaan, motif, harapan dan sebagainya).
·
Objek tidak beraksi, sedangkan
manusia beraksi.
B. PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Persepsi sering
mengecoh kita, dan itu sering disebut dengan ilusi perseptual. Dan dalam
mempresepsi lingkungan fisik, kita sering melakukan kekeliruan. Dan kekeliruan
itu datang dari indera kita sendiri. Kondisilah yang mempengaruhi indera kita.
Selain kondisi, latar belakang pengalaman, budaya dan suasana psikologis yang
berbeda antara suatu individu dengan individu yang lain juga membuat persepsi kita
berbeda atas suatu objek yang kita amati, karena setiap individu tidak akan
menangkap realitas yang sama atas apa yang ia amati.
C. PERSEPSI SOSIAL
Persepsi sosial adlah proses menangkap arti dari objek-objek sosial dan
kejadian yang dialami dalam lingkungan kita. Manusia bersifat emosional,
sehingga penilaian terhadap mereka mengandung resiko. Setiap orang
memiliki gambaran berbeda mengenai realitas di sekelilingnya. Dan akan dibahas
beberapa prinsip sosial yang menjadi pembenaran atas perbedaan persepsi sosial
.
1. Persepsi berdasarkan pengalaman
Pola-pola perilaku manusia berdasarkan persepsi mereka mengenai realita
(sosial) yang telah dipelajari. Perssepsi seseorang mengenai suatu objek dan
reaksi mereka terhadap hal-hal tersebut berdasarkan pengalaman (pembelajaran)
mereka pada masa lalu. Cara kita menaggapi suatu fenomena yang terjaadi
di sekitar kita sangat bergantung pada apa yang telah diajarkan budaya kita
mengenai hal-hal tersebut.
Ketiadaan pengalaman terdahulu dalam
menghadapi suatu objek jelas akan membuat sesorang menafsirkan objek
tersebut berdasaan dugaan semata, atau pengalaman yang mirip. Karena terbiasa
merespon suatu objek dengan cara tertentu, kita sering gagal mempresepsi
perbedaan yang samar dalam objek lain yang mirip. Kita memperlakukan objek itu
seperti sebelumnya, padahal terdapat rincian lain dalam objek tersebut .
2. Persepsi bersifat selektif
Setiap saat kita diberondong oleh
bermaacam ransangan inderawi. Dan tentunya kita tidak menganggapi semua
ransangan yang ada. Dan di sini kita akan belajar mengatasi kerumitan ini
dengan memperhatikan sedikit saja ransangan ini. Atensi kita pada suatu
ransangan merupakan faktor utama yang menentukan selektivitas kita terhadap
suatu ransangan.
Faktor internal yang mempengaruhi atensi
Atensi dipengaruhi oleh faktor-faktor internal: faktor biologis, faktor
biologis, dan faktor-faktor sosial budaya seperti gender, agama, tongkat
pendidikan dll. Semakin besar aspek-aspek tersebut antar individu,
semakin besar pula persepsi mereka terhadap realitas.
Motivasi merupakan salah satu faktor internal yang penting. Misal ketika
menghadiri suatu pertemuan, keseriusan kita untuk mengikutimkita akan
tergantung pada motivasi kita, misalnya pembicara membicarakan masalah
gaji,yang merupakan kepentingan kita tentu akan memperhatikan pembicara
tersebut. Selain motivasi, persepsi manusia juga dipengaruhi oleh pengharapan
(expectation). Bila seseorang telah belajhar mengharapkan sesuatuuntuk
terjadi, mereka akan mempresepsi informasi yang menunjukkan pada mereka bahwa
apa yang mereka harapkan telah terjadi. Kemudian emosi. Emosi jelas akan
mempengaruhi persepsi kita. Ketika kita bahagia, kita cenderung lebih ramah
kepada orang lain, namun pada saat kesal, kita cenderung mudah tersinggung
bahkan marah.
Faktor eksternal yang mempengaruhi atensi
Atensi pada suatu objek akan dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni
atribut-atribut objek yang dipresepsi seperti gerakan, intensitas, kontras,
kebaruan, dan perulangan objek yang dipreserpsi.
3. Persepsi bersifat dugaan
Oleh karena data yang kita peroleh mengenai objek lewat penginderaan tidak
pernah lengkap, maka persepsi merupakan loncatan lansung pada kesimpulan.
Proses persepsi yang bersifat dugaan itu memungkinkan kita menafsirkan suatu
objek dengan makna yang lebih lengkap dari suatu sudut pandang manapun. Oleh
karena informasi yang lengkap tidak pernahg tersedia, dugaan diperlukan untuk
membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang tidak lengkap lewat penginderaan
tersebut. Kita harus mengisi kekosongan untuk melengkapi gambaran suatu
objek dan menyediakan informasi yang hilang. Dengan demikian, persepsi juga
adalah proses mengorganisasikan informasi yang tersedia, menempatkan rincian
yang telah kita ketahui dalam skema organisasiinal tertentu yang memungkinkan
kita memperoleh makna yang lebih umum.
4. Persepsi bersifat evaluatif
Kebanyakan orang menjalani hari-hari mereka dengan perasaan bahwa apa yang
mereka persepsi adalah nyata. tidak ada persepsi yg pernah objektif.persepsi
adalah proses kognitif psikologis dalam diri anda yang mencerminkan
sikap,kepercayaan,nilai dan pengharapan untuk memaknai objek persepsi,
Dengan
demikian,persepi bersifat pribadi dan subjektif. Menggunakan
kata-kata Andrea L. Rich, “persepsi pada dasarnya mewakili kaedan fisik
dan psikologis individu alih-alih menunjukan karakteristik dan kualitas mutlak
objek yang dipersepsi”. Dengan ungkapan Carl Rogers , “ Individu bereaksi
terhadap dunianya yang ia alami dan menafsirkannya dan dengan demikian dunia
persptual ini, bagi individu tersebut , adalah ‘realitas’.
Dalam
konteks komunikasi massa, tidak ada satu surat kabar, majalah, radio atau
televisi pun yang objektif, independen, atau netral dalam melaporkan fakta dan
kejadian melalui beritanya, karena mereka pun tidak hidup dalam vakum sosial
dan vakum budaya. Pada dasarnya bahasa (kata-kata) itu tidak netral. Di
dalamnya ada muatan-muatan pribadi, kelompok, kultural, atau idiologis,
meskipun bersifat samar. Karena itu tidak ada berita yang objekif dalam
pengertian murni atau mutlak.
5. Persepsi bersifat kontekstual
Rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh dalam persepsi
kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Dalam
mengorganisasikan objek, yakni meletakkanya dalam suatu konteks tertentu, kita
menggunakan prinsip-prinsip berikut.
Prinsip
pertama: struktur objek atau kejadian berdasarkan prinsip kemiripan atau
kedekatan dan kelengkapan. Kecenderungan ini tampaknya bersifat bawaan.
Secara lebih spesifik, kita cenderung mempersepsi rangsangan yang terpisah
sebagai berhubungan sejauh rangsangan-rangsangan itu berdasarkan satu sama
lainnya, baik dekat secara fisik atupun dalam urutan waktu, serta mirip dalam
bentuk, ukuran, warna, atau atribut lainnya.
Prinsip
kedua: kita cenderung mempersepsi suatu rangsangan atau kejadian yang
terdiri dari objek dan latar (belakangnya).
D. PERSEPSI DAN BUDAYA
faktor-faktor
internal bukan saja mempengaruhi atensi sebagai salah satu aspek persepsi,
tetapi juga mempengaruhi persepsi kita secara keseluruhan, terutama penafsiran
atas suatu rangsangan. Faktor-faktor internal jelas mempengaruhi persepsi
seseorang terhadap realitas. Dengan demikian persepsi itu terikat oleh budaya
(culture-bound). Kelompok-kelompok budaya boleh jadi berbeda dalam mempersepsi
kredibilitas.
Oleh
karena persepsi berdasarkan budaya yang telah dipelajari, maka persepsi
seseorang atas lingkungannya bersifat subjektif. Semakin besar perbedaan budaya
antara dua orang semakin besar pula perbedaan persepsi mereka terhadap
realitas. Dalam konteks ini, sebenarnya budaya dianggap sebagai pola persepsi
dan perilaku yang dianut sekelompok orang.
Larry A.
Samovar dan Richard E. Potter mengemukakan enam unsur budaya yang secara
langsung mempengaruhi persepsi kita ketika berkomunikaisi dengan orang dari
budaya lain, yakni:
1.
Kepercayaan (beliefs), nilai
(values), dan sikap (attitudes)
2.
Pandangan dunia (worldview)
3.
Organisasi sosial (social
organization)
4.
Tabiat manusia (human nature)
5.
Orientasi kegiatan (activity
orientation)
6.
Persepsi tentang diri dan orang lain
(perception of self and others)
Ad 1. Kepercayaan, nilai, dan sikap
Kepercayaa
adalah anggapan subjektif bahwa suatu objek atau peristiwa punya ciri atau
nilai tertentu, dengan atau tanpa bukti. Sering kepercayaan sekelompok orang atau
bangsa tidak masuk akal.
Nilai
adalah komponen evaluatif dari kepercayaan kita, mencakup: kegunaan, kebaikan,
estetika, dan kepuasan. Jadi nilai bersifat normatif, memberi tahu suatu
anggota budaya mengenai apa yang baik dan buruk, benar dan salah, siapa yang
harus dibela, apa yang harus diperjuangkan, apa yang mesti kita takuti, dan
sebagainya. Nilai biasanya bersumber dari isu filosofis yang lebih besar yang
merupakan bagian dari lingkungan budaya, karena itu nilai bersifat stabi dan
sulit berubah.
Ad.2. Pandangan
dunia
Pandangan dunia adalah orientasi budaya terhadap Tuhan, kehidupan,
kematian,alam semesta, kebenaran, materi(kekayan), dan isu-isu filosofis
lainnya yang berkaitan dengan kehidupan. Pandanagan dunia mencakup agama dan
ideologi. Berbagai agama dunia punya konsep ketuhanan dan kenabian yang
berbeda. Ideologi-idoelogi berbeda juga punya konsep berbeda mengenai hubungan
antar manusia. Jelas pandangan manusia merupakan unsur penting yang memengaruhi
persepsi seseorang ketika berkomunikasi dengan orang lain, khususnya yang
berbeda budaya.
Ad
3. Organisasi sosial
Organisasi sosial yang kita masuki, apakah formal atau informal,juga
mempengaruhi kita dalam memperspsi dunisa dan kehidupan ini, yang pada
gilirannya mempengaruhi perilaku kita. Keanggotan dalam kelas sosial juga akan
mempengruhi komunikasi kita. Kelas atas cenderung bergaul dengan kelas atasnya
lagi sedangkan kelas bawah cenderung bergaul dengan kelas bawah. Dan persepsi
mereka tentang sebuah realitas akan berbeda pula.
Ad 4. Tabiat
manusia
Pandangan kita tentang siapa kita, bagaimana sifat dan
watak kita, mempengaruhi cara kita mempersepasi lingkungan fisik dan sosial
kita. Orientasi manusia mengenai hubungan manusia dengan alam juga mempengaruhi
persepsi mereka dalam memeperlakukan alam.
Ad 5. Orientasi
kegiatan
Aspek
lain yang mempengaruhi persepsi kita adalah pandangan kita terhadap aktivitas.
orientasi ini paling baik dianggap suatu rentang dari Being ( siapa
seseorang) hingga Doing( apa yang dilakukan sesesorang). Dalam suatu budaya
mungkin terdapat dua kecenderungan ini, namun salah satu biasanya
dominan.
Ad 6. Persepsi
tentang diri dan orang lain
Dalam masyarakat kolektifis , individu terikat oleh lebih sedikit kelompok,
namun keterikatan pada kelompok lebih kuat dan lebih lama. Selain itu hubungan
antar individu dalam kelompok bersifat total, sekaligus di lingkungan domestik
dan di ruangan publik. Konsekuensi, perilaku individu sangat dipengaruhi
kelompoknya. Individu tidak dianjurkan untuk menonjol sendiri. Keberhasilan
individu adalah keberhasilan kelompok dan kegagalan individu juga adalah
kegagalan kelompok.
Berbeda dengan
manusia individualis yang hanya merasa wajib membantu keluarga langsungnya,
dalam masyarakat kolektivis orang merasa wajib membantu keluarga luas, kerabat
jauh, bahkan teman sekampung, dengan mencarikan pekerjaan , meskipun pekerjaan
itu tidak sesuai keahliannya.
Oleh karena
masyarakat kolektivis mempunyai konsep yang berbeda mengenai diri dan
hubungannya dengan orang lain, mereka mengalami kesulitan dalam berkomunikasi
dengan orang yang berbudaya individualis.
E. KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
Salah satu penyebab kesalahan persepsi adalah asumsi dan pengharapan kita.
Selain itu akan dibahas beberapa bentuk kekeliruan dalam mempresepsi.
1.
Kesalahan atribusi
Atribusi adalah proses internal dalam diri kita untuk memahami penyebab
perilaku orang lain. Dalam usaha mengetahui orang lain, kita menggunakan
beberapa sumber informasi. Misalnya, kita mengamati penampilan fisik seseorang,
karena faktor seperti usia, gaya pakaian, dan daya tarik dapat memberikan
isyarat mengenai sifat-sifat utama mereka. Atribusi kita juga
keliru bila kita menyangka bahwa perilaku seseorang disebabkan oleh
faktor internal, padahal justru faktor eksternal lah yang menyababkannya, atau
sabaliknya kita menduga faktor eksternal yang menggerakkan seseorang, padahal
faktor internal lah yang membangkitkan perilakunya.
Salah satu
sumber kesalahan atribusi lainnya adalah pesan yang dipersepsi tidak utuh atau
tidak lengkap, sehingga kita berusaha menafsirkan pesan tersebut dengan
menafsirkan sendiri kekurangannya, atau mengisi kesenjangan dan mempersepsi
rangsangan atau pola yang tidak lengkap itu sebagai lengkap.
2.
Efek Halo
Kesalahan persepsi yang sisebut efek halo (halo effect) merujuk pada
fakta bahwa begitu kita membentuk kesan menyeluruh mengenai
seseorang,kesan yang menyeluruh ini cenderung menimbulkan efek yang kuat atas
penilaian kita akan sifat-sifatnya yang spesifik.
Efek halo ini
memang lazim dan berpengaruh kuat sekali pada diri kita dalam menilai
orang-orang yang bersangkutan. Bila kita terkesan oleh seseorang, karena
kepemimpinannya atau keahliannya dalam suatu bidang, kita cenderung memperluas
kesan awal kita. Bila ia baik dalam satu hal, maka seolah-olah ia pun baik
dalam hal lain.
Kesan
menyeluruh itu sering kita peroleh dari kesan pertama, yang biasanya
berpengaruh kuat dan sulit digoyahkan. Para pakar menyebut hal itu sebagai
“hukum keprimaan” (law of primacy).
3.
Stereotip
Kesulitan
komunikasi akan muncul dari penstereotipan (stereo-typing), yakni
menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan membentuk
asumsi mengenai mereka berdasarkan keanggotaan mereka dalam kelompok. Dengan
kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang dan objek-objek
ke dalam kategori-kategori yang mapan, atau penilaian mengenai orang-orang atau
objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang dianggap sesuai, alih-alih
berdasarkan karakteristik individual mereka.
Contoh
stereotiping banyak sekali misalnya:
·
Laki- laki bepikir logis
·
Wanita bersikap emosional
·
Orang berkulit hitam pencuri
·
Orang meksiko pemalas
·
Orang yahudi cerdas
·
Orang prancis penggemar wanita,anggur dan makanan
enak
·
Orang cina pandai memasak
·
Orang batak kasar
· Orang padang pelit
·
Orang jawa halus-pembawaan
·
Lelaki sunda suka kawin cerai dan pelit memberi uang belanja
· Wanita jawa tidak baik menikah dengan lelaki sunda (karena
suku jawa dianggap lebih tua daripada suku sunda )
·
Orang tasikmalalya tukang kredit
·
Orang berkacamata minus jenius
· Orang berjenggot fundamentalis (padahal kambing juga
berjenggot) dan lain-lain
Menurut Baron
dan Paulus beberapa faktor yang tampaknya berperan dalam stereotiping, Pertama,
sebagai manusia kita cenderung membagi dunia ke dalam dua kategori, kita dan
mereka. Singkatnya, karena kita kekurangan informasi mengenai mereka, jadi kita
menyamaratakan mereka semua. Dan kedua, stereotip tampaknya bersumber dari
kecenderungankita untuk melakukan kerja kognitif sesedikit mungkin, dalam
berpikir mengenai orang lain.
Pada umumnya,
stereotip bersifat negatif. Stereotip ini tidaklah berbahaya sejauh kita simpan
dalam kepala kita. Akan tetapi bahayanya sangat nyata bila stereotip ini
diaktifkan dalam hubungan manusia. Apa yang anda persepsi sangat dipengaruhi
oleh apa yang anda harapkan. Ketika anda mengharapkan orang lain berperilaku
tertentu, anda mungkin mengkomunikasikan pengharapan anda kepada mereka dengan
cara-cara yang sangat halus, sehingga meningkatkan kemungkinan bahwa mereka
akan berperilaku sesuai dengan yang anda harapkan.
4.
Prasangka
Suatu kekeliruan persepsi terhadap orang yang berbeda adalah prasangka, suatu
konsep yang sangat dekat dengan stereotif. Istilah prasangka (prejudice)
berasal dari kata latin praejudicium, yang berarti preseden, atau penilaian
berdasarkan keputusan dan pengalaman terdahulu. Richard W.
Brisilin mendefinisikan prasangka sebagai sikap tida adil,menyimpang atau
tidak toleran terhadap sekelompok orang.
Mekipun kita cenderug mengganggap prasangka berdasarkan suatu dikotomi,yakni
berprasangka atau tidak berprasangka, lebih bermanfaat untuk menganggap
prasangka ini sebagai bervariasi dalam suatu rentang dari tingkat rendah hingga
tingkat tinggi. Sebagaimana stereotip, prasangka ini ilmiah dan tidak
terhindarkan. Penggunaan prasangka memungkinkan kita merespon lingkungan secara
umum alih-alih secara khas, sehingga terlalu menyederhanakan masalah.
5.
Gegar budaya
Menurut Kalvero
Oberg, gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan karena hilangnya tanda-tanda
yang sudah dikenal dan simbol-simbol hubungan sosial. Lundstedt mengatakan
bahwa gegar budaya adalah suatu bentuk ketidakmamapuan menyesuaikan diri
(personality mal-adjustment) yang merupakan suatu reaksi terhadap upaya
sementara yang gagal untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang
baru. Sedangkan menurut P. Harris dan R. Moran, gegar budaya adalah suatu
trauma umum yang dialami seseorang dalam suatu budaya yang baru dan berbeda
karena harus belajar dan mengatasi begitu banyak nilai budaya dan pengharapan
baru, sementara nilai budaya dan pengharapan budaya lama tidak lagi sesuai.
Meskipun gegar budaya sering dikaitkan dengan fenomena memasuki suatu budaya
(yang identik dengan negara) asing, lingkungan budaya baru yang dimaksud disini
sebenarnya bisa juga merujuk pada agama baru, lingkungan baru dan sebagainya.
Kita akan mengalami gegar budaya ketika kita memasuki lingkungan budaya yang
baru. Fenomena itu dapat digambarkan dalam beberapa tahap. Peter S. Alder
mengemukakan lima tahap dalam pengalaman transisional yakni:
o Kontak : ditandai dengan kesenangan, keheranan, dan
kekagetan, karena kita melihat hal-hal yang esotik, unik, dan luar biasa.
o Disintegrasi : terjadi ketika perbedaan menjadi lebih nyata
ketika perilaku, nilai, dan sikap yang berbeda mengganggu realitas persepsual
kita.
o Reintegrasi : ditandai dengan penolakan atas budaya kedua.
kita menolak kemiripan dan perbedaan budaya melalui penstereotipan,
generalisasi, evaluasi, perilaku, dan sikap yang sserba menilai.
o otonomi. Ditandai dengan kepekaan
budaya dan keluwesan pribadi yang meningkat, pemahaman atas budaya baru, dan
kemampuan menyesuaikan diri dengan budaya baru kita
o independensi : ketika kita lebih
menghargai kemiripan dan perbedaan budaya, bahkan menikmatinya.
Gegar budaya ini
dalam berbagai bentuknya adalah fenomena yang alamiah. Intensitasnya
dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang pada dasarnya terbagi atas dua yakni
faktor internal (ciri-ciri kepribadian orang yang bersangkutan) dan faktor
eksternal (kerumitan budaya atau lingkungan baru yang dimasuki). Tidak ada kepastian
kapan gegar budaya akan muncul dihitung sejak kita memasuki budaya lain.
Berbagai penelitian empiris membuktikan bahwa gegar budaya merupakan titik
pangkal untuk mengembangkan kepribadian dan wawasan budaya kita, sehingga
kita dapat menjadi orang-orang yang luwes dan terampil dalam bergaul
dengan orang-orang dari berbagai budaya, tanpa harus mengorbankan nilai-nilai
budaya kita sendiri.
Daftar Pustaka
Mulyana, Deddy,
Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,Bandung,
Rosda karya, 2009
Wiryanto.
Pengantar Ilmu Komunikasi,
http://dzatkuruna.blogspot.com/2012/11/bab-5-persepsi-inti-komunikasi.html
0 Response to "Persepsi : Inti Komunikasi "